Perenungan yang dalam
Selalu penuh cinta pada diriku sendiri…akhir-akhir ini itu menjadi kata-kata yang selalu kurenungkan, kusimpan dalam diriku. Aku menyadari banget kalo aku nih nggak sempurna, ngeyel, nakal, sering kesepian, sampai-sampai ada kejadian dengan mr. Y. Itu kebodohan yang sampai sekarang kadang masih kusesali, tapi sudahlah, sudah terjadi juga.
Tapi kejadian itu mengingatkan aku akan kenyataan, setegar apapun, sekuat apapun aku berusaha menunjukkan diriku, aku masihlah rentan, masih lemah, jadi aku masih harus berkali-kali mengatakan pada diriku bahwa aku berharga, bahwa aku indah.
Konyolnya lagi, justru ini terjadi ketika aku mulai membahas soal “seberapa berharganya kita”, seolah Tuhan mengajarkan aku senantiasa ingat bahwa aku berharga,dan dia mengajarkan aku langsung, menghajarku sedemikian hingga di berbagai kelemahanku. Thanks God.
Dan baru-baru ini Dia mengajarkan aku untuk menikmati hidupku, untuk bergembira, dan untuk tidak lari lagi. Kalau mau diingat-ingat, mungkin kalau berbicara masalah hidup, aku ini pelari maraton yang baik lho. Lari terus. Yah, sekarang sih nikmati aja deh hidup ini.
