Sore yang indah
Sore yang indah…
Aku pulang ke rumah dengan hati senang, karena hari itu, bagaimanapun juga sangat menyenangkan, siswaku semuanya meliburkan les.
"nduk, bapak bisa ngomong sebentar?!", kalimat yang lebih merupakan pernyataan daripada pertanyaan.
Aku baru pulang, belum ganti baju, lapar, haus, kebelet pipis, semuanya campur jadi satu. Dengan penuh rasa kesal aku menghadap ayahku. "Kenapa pak?!", kalimat tadi daripada diartikan sebagai pertanyaan, lebih merupakan statement kekesalanku.
Duniaku runtuh sekejap mendengar kalimat pertama ayahku, "Motornya mas Hendra digadaikan". Hatiku hancur, dan aku marah, marah pada kehidupan, marah pada dunia, marah karena aku nggak bisa berbuat apapun.
Ayahku terus bicara, terus bicara, dan terus bicara. Dari masalah keluarga hingga masalah pribadinya. Dan aku hanya mendengarkan, menyimak kalimat per kalimat. Tidak satu pun terucap, hanya bermacam pikiran berkecamuk dalam hatiku. Sampai terpikir olehku untuk membuang impianku kuliah lagi. Bapak sudah mempertaruhkan banyak hal untuk mas Hendra, membelikan motor baru, walaupun dengan hutang di bank, memberi uang saku lebih, dan bermacam-macam. Tidak tega rasanya melihat ayahku, yang sudah cukup berumur, melakukan ini-itu dan tampaknya sia-sia.
Aku menyadari, bahwa selama ini aku terlalu banyak melakukan ini dan itu, dan melupakan ayahku. Ayahku membutuhkan dukunganku, membutuhkan keberadaanku. Jadi, inilah aku ayah.