Clean start
Aku nggak tahu, mana yang lebih baik, menanyakan semuanya (mengkonfrontasinya langsung), atau aku diam dalam semua pertanyaan di kepalaku…yang kalau aku nggak nanya, aku nggak bisa ngehilangin semua dari benakku…nggak bisa ngehapus bayangnya dari hatiku…nggak bisa…nggak bisa jadi diriku sendiri aja…
‘Are we friend? I don’t think so. Why? Just look at u’rself’
bunyi SMSku tadi siang…kenapa? Aku pikir aku memang bukan temannya lagi…Aku nggak pernah merasa diperlakukan sebagai teman…dan terpikir olehku, mungkin akan lebih baik baginya jika aku menghilang dari kehidupannya, biarkan dia dengan dirinya…dan temui aku lagi jika dia sudah siap menyandang kata ‘teman’, karena teman berarti berbagi, teman berarti peduli…
Aku memutuskan untuk jadi diriku sendiri, yang sedari dulu kalau temanku mulai menghindar dari kehidupanku, aku akan datang dan menanyakan langsung kepadanya, bukan memendam seribu tanya di hati atau bersedih dan menangis2inya…aku yang akan tertawa saat ingin tertawa, menangis saat aku ingin menangis, bukan menangis di balik tawa dan tertawa di dalam tangis.
Dan aku mulai menata ulang diriku, dengan atau tanpa keberadaannya, karena inilah hidupku, inilah aku. Aku sudah cukup bersabar dengan sikapnya, aku nggak akan bersikap lemah dan takut kehilangan dirinya, memangnya dia siapa. Jadi aku berdiri dengan kakiku, dan menjadi diriku.
Yah…semuanya dimulai dari sekarang…