Aku cape
Hari-hari ini, aku begitu merindukan ibuku. Walau sempat beberapa hari yang lalu aku kecewa dengannya. Dia meneleponku dan menanyakan perkiraan biaya untuk rencana kuliahku tahun depan. Dan ketika aku menyebutkan nominalnya, dia berkata "Bapak nggak bisa bantu ya?", yang terasa bukan sebagai pertanyaan, tapi lebih merupakan nada keberatan.
Apakah aku ini hanya beban, untuk setiap orang, bahkan untuk keluargaku.
Aku nggak pernah meminta apapun kepada mereka, tidak biaya hidupku, tidak uang untuk ini-itu. Aku sudah mengurusi hidupku sendiri, tapi kenapa ketika aku benar-benar membutuhkan dukungan mereka, aku merasa dicampakkan. Lalu, aku ini siapa?
Ayahku, tidak pernah mau mendengarkanku ketika aku punya masalah. Baginya ketika aku bersikap manja, ketika aku punya masalah, aku hanya dianggap sebagai anak kecil. Dia sendiri juga sudah punya banyak masalah.
Ibuku, aku tidak mengenal ibuku dengan baik.
Kemarin ketika mbak Dina bilang orang yang pakai gelang kaki, biasanya orang itu terikat jadi tulang punggung keluarga. Kayaknya aku pakai nggak pakai gelang kaki sama aja deh. Aku dituntut jadi tulang punggung keluarga, nggak boleh punya masalah, harus bisa menyelesaikan semuanya sendiri, harus ngedukung semua orang dalam keluarga, harus ngerti permasalahan setiap anggota keluarga, dan nggak boleh ngeluh.
Yah…aku cape’.