Sudah Yakinkah aku?
"Siapkah kamu menikah terlambat?" sore itu percakapanku dan Bu Tiwi membuatku banyak berpikir ulang tentang kehidupanku.
Aku berencana kuliah lagi tahun depan, jika aku benar-benar kuliah dan aku menyelesaikan kuliahku dengan cepat, paling cepat aku akan selesai empat tahun lagi. Terkadang saat aku mengingat lagi umurku, hampir 24, tahun depan akan menjadi hampir 25, ketika aku menyelesaikan kuliahku mungkin hampir 28 atau malah sudah 28, lalu bekerja. Aku tahu, wanita dengan usia seperti itu, sebuah perusahaan akan berpikir jauh untuk bisa menerimaku bekerja.
Belum jika aku berkomitmen untuk bekerja, konsentrasiku teralihkan pada pekerjaan, otomatis aku akan menomorsekiankan masalah pencarian pasangan hidup, dan jelas soal pencarian pasangan hidup dan soal kuliah ga bisa sejalan, karena aku 24 teman-temanku mungkin 19-20tahun. Yupz, seperti itulah.
Jadi jalan yang harus kupikir ternyata cukup banyak, dan cukup jauh, dan cukup berat, tidak hanya sekedar pencarian biaya, tapi hari depanku begitu tak jelas dan jauh.
Tapi tak apa. Ini saatnya aku, yang terlalu memikirkan dan berencana jauh ke depan, meletakkan seluruh kehidupanku kepada Yesus. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, pura-pura sudah menyerahkan, ternyata masih menggenggam erat-erat kehidupanku. Yang aku tahu pasti dan yang berada dalam kendaliku saat ini adalah hari ini. Hari ini aku masih bisa berjalan, masih bisa melangkah, masih bisa berusaha. Masalah besok, aku akan berserah dan percaya.