Aku pulang
Aku membutuhkan seseorang untuk berada di sisiku
Setiap kali aku mengingat dirinya, nggak bisa nggak aku teringat kata-kata mbak Dina, "Kamu punya keluarga, Gita punya siapa?". Lebih dari segala hal kata-kata itu menghancurkanku, dan aku dibuat menangis, merasa begitu sesak. Aku selalu sadar aku sendirian, tidak perlu dibuat lebih sadar lagi.
Kepergiannya membuat diriku kehilangan begitu banyak hal. Jarak yang terbentang di antara kami begitu jauh, belum jarak yang terbentang di antara hati kami, belum perbedaan waktu dan semua kesibukan kami. Dan ternyata tanpa dia, aku benar-benar merasa sendirian.
Setiap aku pulang aku hanya menemukan Steven, Vie, Tracy, Reeve, Alfredo, dkk. Dan aku menemukan aku semakin dihempaskan dalam kata-kata mbak Dina tersebut. Walau kadang aku sadar, akulah yang mengurung diriku sendiri. Membawa diriku di tengah-tengah kesendirianku. Tapi inilah tempat ternyamanku. Aku tidak pernah nyaman dengan keberadaan orang-orang di sekitarku.
Sahabatku pernah berkata kepadaku, dia merasa tidak perlu menyembunyikan apa-apa dariku, karena aku pun seperti itu. Aku hanya tersenyum. Luka yang kubiarkan terlihat adalah luka yang telah tersembuhkan. Luka di hatiku, yang lebih dalam, kututup rapat2.
Tapi aku tahu, dalam kesendirian ini, aku justru saat pulang ke rumah, aku bisa berkata ‘aku pulang’. Inilah rumahku, duniaku.