percakapan kami

Filed under: tentang diriku — cekucell at 5:53 am on Friday, May 23, 2008

rara: maafin aku ya Ti
raditya kertiyasa: ada apa e kok minta maaf gitu?
rara: pengen aja
rara:
raditya kertiyasa: emang kamu ngerasa salah apa?
rara: ngerasa salah
rara: akhir2 ini ga bales smsmu
raditya kertiyasa: ya wis
raditya kertiyasa: bukan permintaan maafnya yang penting
rara: trus?
rara: jangan traktiran’
rara: aku lagi diet
raditya kertiyasa: halah…
raditya kertiyasa: bukan
raditya kertiyasa: maksudku
rara: ?
raditya kertiyasa: daripada minta maaf, lebih baik memperbaiki sikap to?
rara: iya2
raditya kertiyasa: memperbaiki diri
rara:
rara: tapi….
rara: tetap harus dipahami
rara: bahwa kita berbeda
rara: aku cewek dan kamu cowok
rara: bahwa kadang ada hal2 dari diriku yang tak terpahami olehmu
rara: dan sebaliknya
rara:
rara: bukan pembelaan diri
rara: hanya ungkapan hati
rara:
raditya kertiyasa: iya iya
raditya kertiyasa: lagian maksudku memperbaiki diri juga bukan masalah nggak bales sms kok…
raditya kertiyasa: kalo itu mah… lha wong aku juga pernah gitu
rara: tapi?
rara: yang jelas
raditya kertiyasa: kalo aku marah besar ke kamu gara-gara itu, berarti aku muna…
rara: aku lebih suka kamu mengatakan sesuatu dengan lugas dan gamblang
rara: aku kan manis2 bolot
rara: jadi kalo ga dijelasin pusing
raditya kertiyasa: he eh
raditya kertiyasa: Rara Gita Bolota Patriahastari
rara: kurang ajar
raditya kertiyasa: hehe…
raditya kertiyasa: maksudku…
rara: ya/
raditya kertiyasa: ya yang kutulis di blog itu
rara: yang mana?
raditya kertiyasa: yang about you dan yang terperangkap
rara: bingung
rara: bukan yang protes?
raditya kertiyasa: bukan
rara: okay
rara: ti
raditya kertiyasa: tapi paling ya nggak dibaca
rara: lapar
rara: aku malah lebih krasa yang itu je
rara: tapi tenang aja di saat aku mulai bermimpi aku punya obatnya
rara: JC ga biarin aku bermimpi kok
rara: dia selalu mengingatkan aku pd komitmenku
raditya kertiyasa: nah…
raditya kertiyasa: justru itu
rara: yup?
rara: mmm,,,seandainya kita ketemu n aku nanya dikit tentang noni bolehkah?
rara: atw itu mengganggu?
raditya kertiyasa: aku cuma bisa jawab yang aku diberi hak menjawab
rara: ok
raditya kertiyasa: selebihnya mungkin aku tau, tapi aku nggak berhak membicarakan
rara: ok
raditya kertiyasa: kayaknya kamu masih belom bisa menangkap pesanku ya…
rara: Ti
rara: aku tau kok
rara: Ti nanya ya
rara: cintaku hanya mimpi ya?
raditya kertiyasa: haduh…
raditya kertiyasa: tambah nggak nangkep
rara: trus maksudnya
rara: ?
rara: aku kan bolot
rara: critain yang jelas
rara: gamblang
rara: aku ga biasa pake bahasa puitis
raditya kertiyasa: menurut aku ni ya
rara: ya?
raditya kertiyasa: selama ini kamu memusatkan hidupmu pada komitmenmu ke Dia dan dia
raditya kertiyasa: kalo ke Dia sih, ya itu urusan pribadimu sama Dia
rara: tapi kalo ke Dia kan itu memang harus
raditya kertiyasa: tapi kalo sama dia
rara: iya?
raditya kertiyasa: seolah-olah jika hidupmu adalah bumi, dia adalah mataharimu
raditya kertiyasa: padahal dia sendiri belum siap untuk menjadi matahari
rara: mmm
rara: kok tau?
raditya kertiyasa: dan hidupmu selalu berputar-putar di situ-situ aja
raditya kertiyasa: bertanya-tanya, benarkah dia mataharimu
rara: tau ga
rara: beberapa hari ini
rara: aku sedang berpikir untuk melupakannya
rara: seang menjauh dari hidupnya dan dirinya
raditya kertiyasa: bukan itu yang aku maksudkan
rara: udahlah Ti
raditya kertiyasa: bukan berarti kamu harus "nyepi" gitu
rara: aku nggak pernah bisa bersikap tanggung
rara: dan memang nggak mau bersikap tanggung
rara: seandainya memang dia ingin aku perlakukan sama dengan yang lain
rara: sama ya sama
raditya kertiyasa: duhhh….
raditya kertiyasa: stop stop stop
raditya kertiyasa: bukan itu
rara: trus?
raditya kertiyasa: tu kan
raditya kertiyasa: tau maksudku obsesi?
raditya kertiyasa: itu lho
raditya kertiyasa: tolok ukurmu selalu dia
rara: Ti
raditya kertiyasa: nggak ada yang lain
raditya kertiyasa: seluruh hidupmu berpusat pada dia
raditya kertiyasa: seluruh pikiran dan perasaanmu, diakui atau tidak, adalah tentang dia
rara: Ti
rara: aku berbeda denganmu
rara: Satu-satunya yang kuingin lakukan
rara: bahkan dengan beberapa hari nyepi ini
rara: adalah mengembalikan semuanya
rara: berdiri pada kakiku
rara: dan mengembalikan dia pada tempatnya
rara: karena hanya itu yang bisa kulakukan
rara: aku tak bisa mencintai dan mengabaikan
rara: pada saat bersamaan
rara: sebenarnya mengabaikan bukan kata yang tepat
rara: tapi aku tak tahu kata yang tepat untuk menggambarkannya
raditya kertiyasa: ya wis lah
raditya kertiyasa: nggak jadi aja lah
rara: okay
raditya kertiyasa: kamu bisa nggak si dengerin aku sampe selesai dulu baru jawab?
rara: okay
rara: ya udah bicaralah
raditya kertiyasa: coba deh liat semua jawabanmu
raditya kertiyasa: semua selalu terkait sama dia
rara: iya
raditya kertiyasa: semua pertimbanganmu adalah tentang dia, karena dia
raditya kertiyasa: jadi…
raditya kertiyasa: itulah yang aku maksudkan
raditya kertiyasa: bahwa duniamu hanya sebesar ruang terbesar di hatimu
raditya kertiyasa: nggak ada tempat untuk yang lain
raditya kertiyasa: sama sekali
raditya kertiyasa: bahkan untuk mimpi2mu yang lain
raditya kertiyasa: padahal
raditya kertiyasa: dia sendiri belum tentu nyaman dengan kamu yang seperti itu
raditya kertiyasa: selain itu
raditya kertiyasa: semua orang di sekitarmu
raditya kertiyasa: kalo liat kamu
raditya kertiyasa: yang terlihat adalah kamu yang terobsesi pada dia
raditya kertiyasa: hanya satu itu
raditya kertiyasa: padahal setauku kamu punya banyak mimpi lain
raditya kertiyasa: kuliah lagi
raditya kertiyasa: nulis buku
raditya kertiyasa: punya anak angkat
rara: satu lagi
rara: yang paling kuimpikan seumur hiduku
raditya kertiyasa: apa?
rara: ga usah deh
rara:
rara: ntar disambung2in ma dia
raditya kertiyasa: nggak kok
raditya kertiyasa: aku nggak akan nyambung2in
rara: ga usah
raditya kertiyasa: biasanya kan kamu yang nyambung2in segala sesuatu sama dia
rara: karena impian terbesarku adalah selalu ada dan memberikan hidupku untuk orang yang kucintai
raditya kertiyasa: nah…
rara: lagipula aku nggak pernah melupakan banyak mimpiku
raditya kertiyasa: ya udah
raditya kertiyasa: kalo memang begitu
raditya kertiyasa: seharusnya kamu nggak perlu sampe tertatih-tatih banget
raditya kertiyasa: ketika dia tidak seperti yang kamu harapkan
raditya kertiyasa: karena masih ada mimpi2 lain yang harus dikejar
raditya kertiyasa: karena hidupmu nggak cuma tentang dia
raditya kertiyasa: tapi tentang kamu sendiri
rara: tapi seperti yang aku bilang kan
rara: aku nggak bisa bersikap "tanggung"
rara: makanya aku ingin menghapusnya dari mimpiku
rara: dan mengembalikan semuanya seperti semula
rara: kenapa karena itupun kamu jadi marah
rara: aneh
rara: begini salah begitu salah
raditya kertiyasa: sebenernya kamu sayang nggak to sama dia?
rara: sayang
rara: makanya yang ingin aku matikan hanya cinta
rara: bukan sayang
rara: dengan sayang
rara: sekedar sayang
raditya kertiyasa: itulah maksudku
raditya kertiyasa: kalo kamu memang cinta
raditya kertiyasa: ya udah
raditya kertiyasa: kenapa harus dihapus?
rara: mau dihapus
raditya kertiyasa: kenapa harus lari dari perasaan itu?
rara: aku nggak lari
rara: aku hanya ingin menjadi diriku yang terbaik
raditya kertiyasa: oke oke
raditya kertiyasa: nah yang itu arahnya udah bener
raditya kertiyasa: dan menjadi dirimu yang terbaik TIDAK tergantung pada dia
raditya kertiyasa: tapi tergantung pada kamu
rara: tapi Ti
rara: mungkin blogsku memang terisi tentang dia thok
raditya kertiyasa: tapi?
rara: bukan mungkin lagi sih
rara: ga tau ya
rara: nggak jelas mengatakannya
rara: sebenarnya aku hanya ingin mengungkapkan isi hatiku ke dia
rara: lewat blogs
rara: karena aku tau dia selalu baca blogsku
rara: dan itu aja
raditya kertiyasa: aku kasih tau ya
rara: y?
raditya kertiyasa: cowok memang suka ketika cewek yang dia cintai selalu memikirkan dia
raditya kertiyasa: tapi cowok lebih suka lagi ketika melihat cewek yang dia cintai
raditya kertiyasa: punya hidup yang begitu berwarna
raditya kertiyasa: penuh impian
rara: oh iya aku punya blogs satu lagi
rara: tapi belum kupublikasikan
raditya kertiyasa: dan lebih lagi kalo si cewek keliatan berusaha meraih impian2 itu
rara: makanya Juni nanti aku akan ke Kupang
raditya kertiyasa: kalo cowok melihat
raditya kertiyasa: bahwa hidup ceweknya adalah 110% tentang dia
raditya kertiyasa: kalo itu aku
raditya kertiyasa: aku malah akan menjadi risih
raditya kertiyasa: karena aku melihat si cewek ini nggak punya dunia selain aku
raditya kertiyasa: kalo aku menghilang sebentar aja…
raditya kertiyasa: kosonglah dunianya
raditya kertiyasa: padahal aku juga punya duniaku sendiri
rara: Ti
rara: Juni nanti aku mau ke Kupang
rara: tau nggak soal kuliah lagi
rara: benernya impianku tepatnya bukan kuliah lagi
rara: aku ingin belajar
rara: aku nggak ingin mandeg
rara: aku ingin mencapai sesuatu yang aku bisa banggakan
rara: tapi bukan kuliah
rara: karena aku pun nggak tau apa yang benar-benar aku ingin pelajari
rara: bukan melupakan
rara: aku hanya sedang melihat2
rara: Ti
rara: kembali pada Juni nanti aku ke Kupang
rara: aku senang sekaligus takut pak Eko nyuruh aku ke Kupang
rara: aku pengen belajar marketing
rara: tapi di balik itu
rara: ada sesuatu yang ingin kupelajari
rara: kehidupan di sana
rara: anak-anak yang tumbuh di sana
rara: bahasanya, 1-2 kata
rara: budayanya
rara: itu yang ingin aku lihat
rara: tapi aku disuruh pergi sendirian
rara: jadi takut juga
raditya kertiyasa: nah…
raditya kertiyasa: gitu itu lho yang aku maksudkan
raditya kertiyasa: aku kemaren2 tu nggak marah
raditya kertiyasa: aku cuma eman2 aja
rara: kembali pada masalah blogsku yang belum kupublikasikan
raditya kertiyasa: kalo kamu jadi nggak sempat mengejar mimpi2mu yang lain
rara: aku belum mempublikasikan blogsku karena
rara: 1. ini bukan berisi perasaanku
rara: itu yang aku inginkan tentang blogsku yang 1 ini
rara: 2. Aku belum menemukan alasan tepat untuk mempublikasikannya
rara: Aku pernah bilang aku ingin menulis
rara: bukan tentang kisah cinta
rara: tapi tentang kisah kehidupan
rara: dimana peran utamanya bukan cinta
rara: tapi tentang manusia
rara: tentang manusia yang berjuang akan hidupnya
rara: dalam 1 juta artian
rara: aku hanya belum menemukannya
rara: makanya blogs ini belum ada isinya
raditya kertiyasa: nah…
raditya kertiyasa: ya udah
raditya kertiyasa: kejarlah itu
raditya kertiyasa: sebenernya ini lho maksudku
rara: Ti
raditya kertiyasa: kamu jarang sekali memperlihatkan dirimu yang penuh mimpi
raditya kertiyasa: yang punya cita-cita ini dan itu
rara: percakapan ini boleh dipublikasikan di blogsku?
raditya kertiyasa: dan kamu jarang sekali memperlihatkan sisi kehidupanmu yang memperjuangkan mimpi2 itu

berikut percakapanku dengan sahabatku tertanggal 23 Mei 2008

Aku masih lelah

Filed under: tentang diriku — cekucell at 4:37 am on Friday, May 23, 2008

Sahabatku mungkin marah denganku. Aku memang dengan terang-terangan sedang menutup pintu keras-keras dan rapat-rapat dari dunia di sekelilingku. Entah apa yang kucari. Aku tak sedang bermimpi, karena aku tau aku pun terluka, hatiku pun berdarah-darah dan bermalam-malam aku bersedih karenanya. Bukan juga aku mencoba berdiri sendiri dan menutup hati rapat-rapat, sebenarnya bukan. Aku hanya mengembalikan diriku dan mungkin kondisi pada awal mulanya.
Walaupun kusadari aku telah berubah dan kondisi telah berubah. Aku hanya tak ingin terus seperti ini. Aku sama sekali bukan seseorang yang kuat, tegar atau apapun. Aku hanya ingin sejenak saja diizinkan bersandar. Aku lelah menemukan ketika aku pulang ke rumah, membuka pintu, meletakkan "Jo", dan tak seorang pun yang bisa kuajak bercerita. Duniaku adalah dunia boneka, dan aku jemu dengan semua itu. Aku sebenarnya hanya berharap ada seseorang yang bisa mendengarkan aku, berbagi cerita apa yang kami alami hari itu. Tapi aku tak ingin bersandar pada sembarang orang.
Awalnya aku menikmati saat-saat bersama sahabatku, aku tau dia juga begitu. Aku tidak tahu sejak kapan semuanya menjadi serba salah. Tapi aku pun tidak tahu mana yang lebih baik, situasi ini atau situasi sebelumnya. Dan mana yang kuinginkan, situasi ini atau situasi sebelumnya. Yang aku tahu, aku hanya ingin membiarkan semuanya sampai hatiku tenang dan membaik.