"aku akan menganggapnya sebagai sahabatku saja",
"Tidak semudah itu lho Ta…"
Ya aku tau. Aku pernah mencintainya, masih mencintainya, dan tak akan semudah itu menghapus cinta dari dalam hatiku, seandainya Yesus menuliskan cinta itu dengan pensil HB mungkin cinta itu begitu mudah dihapus, tapi Yesus menuliskan cinta itu dengan tinta permanen, yang diperlukan sebuah thiner untuk menghapusnya, sayangnya aku tak ingin memberi racun (thiner=racun) di hatiku, jadi yang bisa kulakukan hanyalah menghapusnya pelan-pelan.
Satu hari berlalu aku masih mencintainya, besok aku tak tahu. Seandainya besok aku masih mencintainya, berarti akan kubiarkan satu hari lagi berlalu, dan begitu seterusnya. Pelan tapi aku tau pasti. Akan ada saatnya di mana cinta ini akan tertidur kembali.
Sebenarnya aku sangat ingin menangis, hanya menangis, mungkin seharusnya aku menangis saja di hadapannya, menangis apa adanya aku, tapi apa gunanya, hanya akan membuatnya merasa bersalah. Aku hanya bisa bersikap ’sebagai sahabat’, Aku nggak manis ya? Mungkin akan lebih manis kalau aku bisa menangis di hadapannya. Itu manis atau egois ya?
Kemarin kupikir akan lebih baik ketika di antara kami ada kejelasan, tapi sekarang seandainya tak ada kejelasan, mungkin aku masih bisa bermimpi, mimpi yang bodoh
tapi setidaknya aku punya mimpi. Kali ini aku diruntuhkan dengan kejam dan kenapa bahkan untuk marah pun aku tak mampu, yang mampu kulakukan hanya mengiyakan dan melihat punggungnya berlalu. Sekejam itu…dan aku tak punya pegangan untukku saat ini mampu berpijak. Bahkan dinding yang kupunya dirobohkan. Dan aku tak punya tempat berlindung. Oh, aku terpuruk.
Yesus tak pernah dengan sengaja membiarkan aku terluka tanpa alasan, dan Dia tak akan pernah membiarkanku sendirian. Tapi saat ini aku sangat terluka. Yesus memang menjadikan hatiku sebuah spons yang seperti apapun diperlakukan dia akan kembali seperti semula, hanya saat ini biarkanlah aku terluka sejenak.
Yang bisa kulakukan setelah ini, dengan perlahan akan kuambil serpihan-serpihan diriku, kupungut setiap puing-puing dari reruntuhan diriku, kupeluk erat-erat seolah tak ada lagi yang lebih berharga dari semua itu untuk sejenak, lalu seperti biasa aku akan berkata pada Yesus, ‘Yesus yang ini sudah hancur, maukah Kau memberikan kepadaku yang baru’, dan aku percaya Yesus akan tersenyum padaku, mengambil serpihan itu dari tanganku dan memberikan yang baru, Dia tidak marah padaku, Dia hanya tersenyum karena Dia tahu ketika aku menghancurkannya aku sudah hancur bersamanya, Yesus tahu tak ada lagi yang perlu dikatakan. Dan yang akan kulakukan adalah menghambur ke pelukanNya, seperti yang sudah, selalu dan sedang terjadi.