Aku kecewa
"Wanita yang dewasa dan mandiri itu adalah wanita idamanku, dan itu yang aku lihat dari kamu sekarang Ta", itu katamu tadi malam
Dan aku kecewa. Ternyata selama 6 tahun kita bersama kamu nggak mampu melihat sisi di dalam diriku.
"Wanita yang dewasa dan mandiri itu adalah wanita idamanku, dan itu yang aku lihat dari kamu sekarang Ta", itu katamu tadi malam
Dan aku kecewa. Ternyata selama 6 tahun kita bersama kamu nggak mampu melihat sisi di dalam diriku.
"Aku bukanlah wanita yang kuat seperti yang selama ini selalu kalian bayangkan dan harapkan", aku selalu ingin meneriakkan itu kepada sekian banyak temanku, yang sebagian besar menganggap aku kuat dan tegar.
Aku juga seringkali menangis sendirian di kamar, seringkali ragu dengan rencana Tuhan atas hidupku, terkadang juga berkata pada Bapa kalau aku ingin menyerah, tapi kalau aku menyerah memangnya apa yang akan terjadi. Aku hanya tahu hidup bukan sebuah game di komputer, yang ketika kita lelah, bosan kita bisa mengakhiri semuanya begitu saja. Hidup tidak begitu, sekalipun kita lelah, hidup terus berjalan dengan segala hal yang dibawanya. Yang aku tahu hanyalah ’selalu ada oasis’, Yesus menempatkan oasis di tempat yang tepat, aku hanya perlu berjalan ke sana.
Jadi tolong jangan mengira aku kuat, tegar ataupun sejenisnya, karena semakin kalian menganggapku tegar dan kuat aku akan membangun dinding semakin tinggi dan semakin masuk ke dalamnya.
Aku meminta kekuatan kepada TUHAN, supaya aku berhasil
Aku dibuat lemah, supaya aku dengan rendah hati belajar untuk taat
Aku meminta kesehatan, supaya aku berbuat perkara-perkara yang lebih besar
Aku diberi kerentanan, supaya aku berbuat perkara-perkara yang lebih baik
Aku meminta kekayaan, supaya aku menjadi bahagia
Aku diberi kemiskinan, supaya aku menjadi bijaksana
Aku meminta segala sesuatu, supaya aku bisa menikmati hidup
Aku diberi hidup, supaya aku bisa menikmati segala sasuatu
Aku tidak mendapatkan apa yang kuminta,
tetapi segala yang kuharapkan
Hampir di samping diriku sendiri,
semua doaku yang tak terucapkan dijawab
Aku adalah, diantara semua manusia,
yang paling diberkati secara melimpah
‘Aku adalah kamu,
kamu adalah aku
Aku dan kamu adalah kita
Kita adalah cinta’
Lagi-lagi mbak ‘…’ bertanya pada mr. TM soal hubungan kami. Aku harus bilang gimana sih supaya dia jangan bertanya pada mr. TM. Biarkan saja semua berjalan apa adanya dan mengalir. Aku nggak mau kalau hanya karena mbak ‘…’ bertanya pada mr. TM, sikap mr. TM kembali jaga jarak padaku. Nggak mau dan nggak mau.
Aku sudah berpesan padanya, kalau ada yang ingin ditanyakan, tanyakan saja padaku, dan jangan bertanya apa-apa kepada mr. TM, tapi kenapa masih saja diulangi. Aku harus gimana sih? Aku nggak ingin hubunganku dengan mr. TM kembali kaku n ga jelas kayak kemarin dan nggak ingin hubunganku dengan mbak ‘…’ juga jadi nggak enak, jadi aku bingung harus gimana…hiks2
Hehe…berantem lagi ma ‘dia’…Heran, pacar bukan ternyata masih aja kami berdua tukang berantem. Tapi aku senang, setiap kali berantem ma dia rasanya plong, rasanya lega. Hanya dia sih yang paling ngerti harus bersikap gimana kalo aku lagi pengen berantem. Dia juga yang paling bisa bikin aku ketawa setelah kami berantem, dan aku jadi rindu pada saat-saat kami bertengkar dulu. Sehebat apapun kami bertengkar, di akhirnya kami selalu bisa tertawa lepas bersama. Sebanyak apapun air mata yang tumpah, selalu tergantikan dengan tawa dan canda yang menghapus semuanya.Dan seperti biasa pertanyaan yang dia ajukan kalau aku tiba-tiba membuat suasana di antara kami jadi tidak enak, "Kamu lagi mau atau sedang mens, ya Ta?"…hehe…dia yang paling paham kalau aku lagi PMS pengennya makan orang dan dia sasaran utamanya.
Tadi malam membuatku rindu saat-saat yang pernah kami miliki, bahkan saat-saat kami bertengkar hebat. Terlalu banyak yang pernah kami miliki, terlalu banyak hal dan kenangan yang kumiliki dengannya, dan untuk sesaat kubiarkan diriku hanyut pada kerinduanku akan dirinya…
(Aku rindu saat-saat bersamamu Mas)
Dulu…sahabatku yang mencintaiku berkata padaku ‘aku akan menunggumu sampai 5 tahun’, dan setelah itu aku terkekang. Aku tak lagi mampu menjalani persahabatanku dengannya sebebas sebelumnya. Aku tak bisa tertawa lepas, tak bisa bersikap konyol, tak bisa tersenyum sebahagia sebelumnya di depannya. Aku menjadi terikat dengan komitmennya. Dia pun sama, dia tak lagi sebebas dulu padaku, dia mulai menuntut dan mengikat, dan hubungan kami semakin tak nyaman. Hingga akhirnya aku berkata, ‘jangan lagi menungguku’, mungkin terkesan jahat, tapi itu mengembalikan semuanya, semua yang hilang, yang pernah ada di antara kami. Dan sejujurnya seandainya dia punya lebih banyak waktu di Yogya, di dekatku, aku tau sejujurnya aku mulai menyayangi dia dan berharap dia di sampingku.
Ohh…aku kemarin tak belajar dari hal itu, aku melakukan hal yang sama pada orang yang kucintai, mengikatnya dengan komitmen pribadiku, dan runyam semua, situasi yang sama terulang kembali dan aku merasa bodoh. Jadi aku belajar, dan belajar lagi.
"Pria menikahi wanita dengan harapan si wanita tak pernah berubah
Wanita menikahi pria dengan harapan si pria akan berubah
Keduanya menikah, dan mereka sama-sama kecewa"
Aku lupa tulisan siapa itu, tapi tulisan itu sangat menonjokku, terutama baru-baru ini, aku juga sangat kecewa pada diriku, ‘whoey, mana diriku yang berkata sebisa mungkin aku tidak akan berubah ketika sebuah persahabatan menjadi cinta’, aku kecewa, tapi aku belajar dari hal itu.
"Kenapa wanita ketika menjadi sahabat dan menjadi pacar bisa sangat berbeda?" kata sahabat baikku kemarin sore.
"Wanita bisa menjadi sahabat yang sangat baik tapi menjadi pacar yang sangat menuntut", katanya lagi.
Yah itulah wanita, terkesan pembelaan diri ya…wanita memang mahluk yang sangat sulit dipahami, bahkan aku yang wanita saja sulit memahaminya. Aku tidak akan membela diri, karena akupun begitu. Beberapa tahun yang lalu aku pernah membahas hal ini bersama sahabatku yang lain lagi.
"Kita itu bisa menjadi orang yang sangat pengertian pada orang lain tapi tidak pada pacar kita ya", itu katanya padaku.
Sekali lagi aku jadi terdiam. Aku pun baru-baru ini membuat orang yang aku cintai menjadi tidak nyaman karena aku mulai menuntut. Jadi aku belajar, belajar hal yang penting, yang selalu dan selalu aku pelajari, perlakukan orang yang aku cintai sebagai sahabat. Itu akan nyaman. Jangan terpengaruh dengan hubungan yang ada di antara kami, aku harus dan harus bisa memandangnya sebagai sahabat.
Menjadi sahabat berarti aku menjadi diriku sendiri, yang terbaik, menjadi diri sendiri bukan berarti menunjukkan sisi terburuk, menjadi egois dan sebagainya. Karena kadang itulah definisi kita tentang ‘menjadi diri kita sendiri’ adalah berarti menjadi diri sendiri yang egois, menunjukkan sisi kita yang terburuk. Alangkah kejamnya kalau begitu. Jika kita memiliki sisi penuh cinta, kenapa kita tidak memberikannya sebagai ganti sisi penuh kemarahan, jika kita punya sisi penuh pengertian, kenapa kita tidak memberikannya sebagai ganti sisi penuh tuntutan. Tapi seperti yang kukatakan aku pun masih belajar.
Aku mencintaimu…hanya itu…
Untuk kali ini aku tidak berkata mencintaimu sampai kapan, menunggumu sampai kapan, bahkan bertanya ‘bolehkah aku mencintaimu’, itu hanya membuat semuanya runyam, aku hanya akan mencintaimu, itu saja cukup…
Aku tidak ingin cintaku justru jadi beban buatku juga buatmu, biarkan saja mengalir, mengalir apa adanya dan tulus.
Aku sering merasa ada yang menatapku. Tapi setiap kali aku menoleh, aku tak melihat siapapun melihatku, dan aku jadi bingung. Sebut saja orang yang melihatku ini ‘dia’. Dia selalu tahu saat aku menoleh dan dalam sekejap membuang muka dan melihat ke arah lain. Hal ini terjadi berulang-ulang setiap kali kebaktian malam Minggu.
Tapi hari itu lain, aku menoleh dan menangkap sekilas pandangannya padaku, dan untuk pertama kalinya mata kami beradu pandang. Dia menarik hatiku tepatnya mataku pada pandangan pertama. Saat itu kami belum saling mengenal.
Minggu berlalu, bulan berlalu, dan perkenalan pertama kami di suatu Sabtu yang gerimis. Kami berkenalan, menurut dia, karena pendeta sore itu menyuruh kami bersalaman dan menanyakan nama serta mengucapkan ‘Tuhan memberkati’, serta, menurut dia lagi, kebetulan aku duduk agak dekat dengannya.
Menurut aku berbeda, sebenarnya hari itu aku memilih duduk dekat dengannya dan sebenarnya aku berharap pendeta akan melakukan hal itu, karena biasanya begitu. Aku sudah terlalu penasaran akan dirinya dan aku sengaja mencari cara untuk berkenalan dengannya.
Untuk ‘dia’, ini pengakuan sejujur-jujurnya dari seorang aku. Jadi perkenalan pertama kita sebenarnya separohnya ada kesengajaan dariku, kesengajaan yang aku percaya, Yesus mengizinkan.